Lebah Madu Indonesia

Lebah Madu Indonesia

Lebah Madu Indonesia, Klasifikasi,  Komposisi Koloni

Klasifikasi Lebah 

Species Lebah Madu Indonesia & Klasifikasinya
Klasifikasi :

 Kingdom         : Animalia

 Phylum            : Arthropoda

 Class                 : Insecta

 Ordo                 : Hymenoptera

 Family              : Apidea

 Genus               : Apis

Lebah madu termasuk serangga yang memiliki sayap. Lebah madu biasanya hidup secara berkoloni atau berkelompok. Satu koloni lebah madu biasanya dihuni oleh tiga macam lebah yang mempunyai tugas sendiri- sendiri. Pembagian tugas tersebut berjalan sesuai dengan fungsinya masing- masing. Ketiga macam lebah tersebut adalah lebah ratu, lebah pekerja dan lebah jantan. Lebah-lebah pekerja akan mempertahankan koloninya dengan jalan memburu dan menyengat apabila koloni lebah tersebut diusik atau diganggu (Sihombing, 1997).

Komposisi Dalam Koloni Lebah

Ratu Lebah

Ratu merupakan satu-satunya lebah petelur seumur hidup. Setiap koloni lebah biasanya memiliki seekor ratu lebah. Ratu lebah berukuran lebih besar bila dibandingkan dengan lebah jantan dan lebah pekerja.  Keistimewaan ratu lebah adalah dapat menyengat berkali-kali tanpa merusak tubuhnya. Ratu lebah mengeluarkan telur yang akan menjadi lebah jantan, lebah pekerja dan kadang-kadang calon ratu. Ratu lebah menerima makanan berupa sari madu dari lebah pekerja muda yang masih bertugas di dalam sarang saja. Ratu merupakan lebah yang sangat dicintai oleh semua anggotanya (Warisno, 1993).

Perkawinan ratu lebah dengan lebah jantan terjadi di alam terbuka dan hanya terjadi dalam satu musim kawin selama hidupnya. Perkawinan antara lebah jantan dan ratu terjadi pada siang hari pada udara yang cerah disaat lebah-lebah beterbangan. Perkawinan biasanya berlangsung di sekitar rumah lebah selama 2-10 hari. Selesai kawin ratu lebah dan lebah jantan yang mengawininya jatuh bersama-sama di tanah, lebah jantan segera mati karena kantong spermanya ikut lepas dalam kantong sperma ratu dan ratu kembali lagi ke sarang. Perkawinan ini terjadi berulang kali hingga ratu lebah telah cukup memperoleh spermatozoa dalam kantong spermanya. Ratu lebah akan tinggal dalam sarang selama-lamanya setelah mengadakan perkawinan kecuali bila terjadi gangguan-gangguan atau diusik. Ratu lebah tersebut akan memisahkan diri dan membentuk koloni lebah baru bila lahir induk lebah baru (ratu baru) dari telur yang menetas. Warna ratu lebah adalah merah tua dan agak kehitam-hitaman (Warisno, 1993).

Ratu lebah selalu diikuti oleh ribuan lebah lainnya, baik lebah jantan maupun lebah pekerja setiap meninggalkan sarangnya. Hal ini disebabkan karena selain ratu merupakan panutan dari seluruh lebah, bunyi kepakan sayapnya saat terbang juga sangat berlainan bila dibandingkan dengankepakan sayap lebah lainnya. Ratu lebah juga bisa mengeluarkan bau yang spesifik yang dapat menarik lebah-lebah lainnya (Sihombing, 1997).

Lebah Jantan

Bentuk badan lebah jantan lebih besar dari pada lebah pekerja, tapi lebih kecil dari pada ratu lebah. Lebah jantan tidak memiliki sengat sehingga tidak bisa menyengat. Lebah jantan bertugas sebagai pejantan, menjaga sarang, dan membersihkan sarang dari kotoran-kotoran. Lebah jantan tidak suka berkelahi dan biasa disebut lebah yang malas bekerja dan juga gemar makan. Lebah jantan tidak makan sendiri, menunggu disuapi oleh lebah rumah tangga. Lebah jantan berwarna kehitam-hitaman dan tidak bisa mengumpulkan madu sebab perutnya tidak cocok untuk mengumpulkan madu. Lebah jantan juga tidak mempunyai keranjang untuk pengangkut tepung sari (Warisno, 1996).

Lebah Pekerja

Bentuk badan lebah pekerja paling kecil dibandingkan dengan lebah jantan ataupun ratu lebah. Lebah pekerja dikenal juga sebagai lebah lapangan yang bertugas mencari nektar, tepung sari dan air. Kemampuan terbangnya mencapai 2-3 km. Lebah pekerja berangkat pagi-pagi sekali dalam menunaikan tugasnya. Lebah pekerja ini cenderung mengumpulkan nektar dari bunga yang sejenis, bahkan dapat memilih dari sejumlah bunga yang mengandung nektar paling banyak (Sihombing, 1997).

Alat untuk menghadapi bahaya yang mengancam kehidupan lebah pekerja adalah sengat yang beracun dan berbisa. Tugas lebah pekerja di lapangan cukup berat, setiap saat diincar oleh bahaya seperti jebakan labalaba, tanaman bergetah, burung-burung pemangsa dan pengganggu lainnya.

Lebah pekerja lebih suka mencari nektar, tepung sari dan air terdekat dari sarang, kira-kira 1-2 km (Warisno, 1993).  Keistimewaan lebah pekerja adalah, lebah ini tidak mungkin akan tersesat waktu kembali ke sarangnya, lebah pekerja memiliki alat pembau (home sence) yang sangat kuat. Lebah pekerja pulang ke sarang biasanya disambut dengan gembira oleh lebah-lebah pekerja yang masih muda.

Penyambutan tersebut dilakukan dengan menari-nari di sekeliling rumah lebah secara massal. Lebah pekerja datang laksana pahlawan yang telah bertugas di medan perang yang patut dihormati (Warisno, 1996).

Lebah menjalin simbiosis yang menguntungkan dengan tanaman. Tanaman mengeluarkan bunga yang berwarna-warni dan bau-bauan yang beraneka macam serta mengandung nektar dan tepung sari yang dibutuhkan lebah. Hal ini menarik perhatian lebah pekerja untuk mendatangi dan mengambil nektar serta tepung sari tersebut sehingga penyerbukan tanaman menjadi lebih sempurna (Sihombing, 1997).

Anatomi Lebah Madu

Lebah madu memiliki badan yang beruas-ruas dan tiap ruas saling berhubungan. Ruas-ruas ini disebut dengan segmen yang dapat membedakan antara kepala, dada (thorak) dan gembung (perut). Seluruh badannya ditumbuhi bulu yang biasa disebut rambut. Tubuh lebah ditutupi bulu-bulu halus yang berguna untuk menangkap serbuk sari yang diperoleh dari bunga. Serbuk sari yang terkumpul disisihkan ke wadah khusus yang terdapat di tungkai belakang.

Mulutnya berbentuk tabung panjang yang dipakai untuk menghimpun nektar yang disimpan dalam lambung madu (tembolok), yaitu bagian usus yang dapat mengembung (Sarwono, 2001).

Gambar 1. Anatomi Lebah Madu Indonesia

Kepala lebah menyerupai bentuk segi tiga. Alat penglihatannya berupa mata tunggal dan mata majemuk. Mata tunggal berjumlah tiga buah, terletak di atas bagian kepala dan dipakai untuk melihat benda-benda yang berada dalam jarak sekitar 1-2 cm. Mata majemuk terletak di kedua sisi kepala dan dipakai untuk melihat benda-benda sampai jarak 140 m. Mata majemuk lebah jantan lebih besar bentuknya, mempunyai penglihatan yang lebih sempurna dibandingkan dengan mata lebah pekerja dan mata ratu lebah. Lebah dapat melihat benda dalam jarak dekat dan jauh, lebah juga dapat membedakan antara terang dan gelap (Sarwono, 2001).

Winarno (1982) menyatakan, berdasarkan percobaan Von Frisch pada tahun 1924 diketahui lebah madu dapat melihat empat warna, yaitu ultra violet, biru, hijau muda dan kuning. Hal itu dibenarkan oleh A. Kuhn (1927) dalam Winarno (1982) yang menyatakan lebah dapat melihat warna-warna yang memiliki panjang gelombang antara 300-650 milimikron. Berdasarkan sifat tersebut peternak sebaiknya meletakkan sarang secara berdampingan. Kotak sarang sebaiknya dicat memakai warna biru, kuning, hitam dan putih. Lebah memiliki dua pasang sayap, sepasang sayap depan lebih besar ukurannya dibandingkan dengan sepasang sayap belakang.

Perut tempayak atau larva lebah memiliki sepuluh ruas, tetapi dalam pertumbuhannya salah satu ruas berubah menjadi dada. Pada lebah pekerja, enam ruas pertama terlihat jelas digembungnya dan pada lebah pejantan terlihat tujuh ruas pertamanya. Dalam ruas tulang dada ketiga, keempat dan kelima lebah pekerja terdapat kelenjar lilin lebah. Lilin dikeluarkan dalam keadaan cair, kemudian mengental menjadi keping-keping lilin. Lebah memiliki antena atau sungut yang berpangkal pada bagian tengah kepala.

Antena ini merupakan alat peraba dan perasa terhadap rangsangan cuaca dan zat kimia yang ada disekitar lebah. Mulut lebah memiliki rahang yang kuat yang dapat dilihat jelas dari arah depan. Dalam mulut terdapat lidah berbentuk saluran yang penuh dengan bulu lembut dan keras yang dipakai untuk mengisap madu yang terdapat di dalam bunga. Kelenjar ludah dan kelenjar pakan yang menghasilkan sari madu juga terdapat di kepala lebah. Kepala dihubungkan dengan dada oleh leher kecil yang berisi kerongkongan dan saluran kelenjar ludah (Sarwono, 2001).

Bentuk dada lebah hampir bulat, keras dan tersusun atas empat segmen yang tergabung erat. Segmen pertama atau bagian paling depan disebut prothorax, merupakan tempat berpangkalnya kaki pertama. Segmen kedua disebut mesothorax, merupakan bagian paling besar dan tempat berpangkalnya sepasang sayap depan dan sepasang kaki tengah. Segmen ketiga yang bentuknya sempit disebut metathorax, merupakan tempat berpangkalnya sepasang sayap belakang dan sepasang kaki belakang.

Segmen keempat disebut propedeum, tidak memiliki tambahan apapun. Lebah memiliki tiga pasang atau enam buah kaki. Kaki muka memiliki tulang kering dan legokan yang berfungsi untuk memanipulasi pekerjaan yang bersifat khusus. Kaki tengah memiliki duri dan kaki belakang lebih panjang dari pada kaki lain dan penuh dengan bulu. Ujung kaki mempunyai sepasang kuku dan gelambir yang lunak untuk memegang atau hinggap di permukaan barang yang licin. Kaki belakang dipakai untuk mengais tepung sari pada bunga. Tepung sari dibulat-bulatkan dengan nektar lalu diletakkan di kaki belakang.

Kaki lebah akan menyentuh kepala putik bunga sewaktu mengambil tepung sari sehingga sebagian tepung sari yang menempel di kaki lebah tertinggal dan melekat di sana.  Tepung sari itu tumbuh dan masuk ke dalam tiang putik, sehingga terjadi persarian bunga (Soerodjotanojo, 1996).

Pada ujung ruas perut lebah ratu dan lebah pekerja terdapat alat penyengat, tetapi lebah jantan tidak memilikinya. Sengat lebah merupakan suatu bentuk perubahan dari alat pengantar telur, semula merupakan alat untuk meletakkan telur, kemudian berubah menjadi alat untuk menusuk dan memasukkan bisa pada lawannya. Saluran pencernaan lebah dimulai dari mulut, kemudian membentang melalui leher, dada dan berakhir di ujung gembung. Kantung madu, lambung dan usus terdapat di dalam gembung. Hasil pencernaan dibawa langsung oleh darah beningnya untuk diedarkan ke seluruh jaringan tubuh (Sarwono, 2001).

Alat reproduksi lebah jantan berupa sepasang testis yang terletak di sisi kanan dan kiri gembung. Alat reproduksi lebah ratu berkembang sempurna, terdiri dari dua buah ovari besar berbentuk buah apel yang berisi ovariola tertutup. Badan lebah dipenuhi dengan urat-urat daging yang teratur susunannya dan daging yang lembut (Sarwono, 2001).

Jenis-jenis Lebah Madu Indonesia

Lebah madu Indonesia yang dikenal masyarakat Indonesia ada empat jenis, yaitu:

Apis indica/Apis cerana,

Apis mellifica/Apis mellifera,

Apis dorsata dan

Apis trigona.

Jenis lebah madu Indonesia yang banyak dipelihara/diternakkan oleh masyarakat adalah jenis Apis indica dan Apis mellifera. Apis indica pada umumnya dikenal sebagai lebah unduan, lebah lalat, tawon laler (Bahasa Jawa), lebah gula, lebah sirup atau lebah kecil.

Apis indica

Apis indica ada yang dipelihara (diternakkan) dan ada juga yang hidup liar di seluruh bumi nusantara. Ada yang mengatakan bahwa lebah tersebut adalah asli dari kawasan Asia Polinesia. Lebah Apis indica memiliki ukuran tubuh yang lebih kecil dari lebah mellifera dan sifatnya juga agak ganas. Produksi madunya tidak begitu banyak, yaitu sekitar 6-12 kilogram setiap tahun untuk satu koloni lebah. Lebah ini cukup banyak dipelihara di Desa-desa dengan menggunakan sistem gelodok yang tempatnya terbuat dari batang pohon kelapa yang dibelah dua dan biasanya diletakkan di dahan pohon yang ada di sekitar rumah. Lebah Apis indica ada yang hidup liar di rongga- rongga pohon atau di dahan-dahan pohon besar yang terlindung dari terik sinar matahari dan hujan, ada juga yang hidup di atap rumah-rumah tua yang sudah tidak dihuni (Warisno, 1996).

Apis mellifica

sering juga disebut dengan lebah Italia, lebah impor Australia, lebah madu internasional, lebah Selandia Baru atau lebah melli.  Ukuran lebah ini lebih besar bentuknya bila dibandingkan dengan Apis indica dan sifatnya tidak ganas meskipun dapat menyengat. Lebah ini cukup mudah untuk diternakkan karena selain jinak, lebah ini dapat memproduksi madu yang cukup tinggi, yaitu sekitar 30-60 kg/tahun pada setiap koloni lebah. Lebah ini banyak diternakkan oleh pemerintah (Dinas Kehutanan/Perum Perhutani) dan perusahaan-perusahaan swasta (Soerodjotanojo, 1996).

Apis dorsata

Apis dorsata biasa disebut lebah hutan atau lebah liar. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama tawon gung (bahasa Jawa). Lebah ini sulit untuk diternakkan karena sifatnya yang ganas dan sengatannya juga cukup berbahaya bagi manusia. Jenis lebah ini banyak terdapat di hutan belantara yang jarang ditempuh oleh manusia. Jenis lebah ini juga ada yang menamakannya lebah raksasa, karena rumahnya sangat besar dan penghuninya jutaan ekor. Garis tengah dari sarang lebah Apis dorsata kira- kira 1,5-2 meter. Produksi madunya setiap kali panen sekitar 50-60 kilogram.

lebah madu indonesia
                                                   lebah madu indonesia (pengambilan madu di hutan)

Bentuk sarang dari jenis lebah madu Indonesia ini tidak seperti sarang lebah pada umumya yang berupa sisiran, tetapi bentuknya menjadi satu kesatuan (Hadiwiyoto, 1986).  Lebah madu Apis trigona yang biasa disebut dengan Klanceng. Keistimewaan lebah ini adalah tidak memiliki sengat. Senjata untuk bela diri adalah zat perekat seperti lem yang lekat sekali. Lebah ini berukuran kecil dan produksi madunya juga sedikit sehingga jarang diternakkan (Hadiwiyoto, 1986).

Makanan Lebah Madu Indonesia

Anonimous (2009) mengatakan bahwa makanan lebah madu Indonesia adalah nektar dan tepung sari yang terdapat pada bunga tanaman dan air. Semua bunga tanaman hampir merupakan sumber makanan lebah madu Indonesia dan oleh karena itu, upaya peternakan lebah madu harus dekat dengan lokasi atau tempat yang cukup banyak menghasilkan nektar, tepung sari dan air.

Beberapa jenis tanaman sumber pakan lebah madu Indonesia menurut Warisno (1996) adalah; anggrek, kamboja, karet, kedondong, kembang sepatu, kembang matahari, pisang, anggur, apel, belimbing, duku, durian, jeruk, kelapa, jambu, cokelat, mangga, rambutan, padi, jagung, aren, kapuk, kelapa sawit, akasia dan kopi.

Makanan lebah madu indonesia berupa nektar, tepung sari dan air berkurang pada musim kemarau. Lebah madu yang diternakkan pada saat itu sebaiknya diberi makanan tambahan berupa madu tiruan yang dibuat dari gula dan air. Cara pembuatannya cukup mudah, yakni dengan mencampur air dan gula dengan perbandingan 1 bagian gula dan 1 bagian air. Kedua bahan tersebut dilarutkan menjadi satu dan diletakkan di sekitar sarang lebah. Beberapa menit setelah itu lebah-lebah pekerja akan mengangkut makanan buatan tersebut ke dalam sarangnya untuk dikonsumsi bersama lebah lainnya (Anonimous, 2009).

Similar Posts:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!